Simple

Simple.

Simpel, kalau bahasa Indonesianya.

Untuk berhasil kadang tips dan triknya itu yang simpel simpel loh.

   Contoh:

  • Mau kaya? Suruh sedekah. Iya orang pada tahu. Hafal malahan. Mau ngelakuin??? Belom tentuuu.
  • Mau ilmunya berkah? bagikan dan ajarkan kepada orang-orang. SImpel? Iya. Orang tahu? Banget! Ngelakuin??????? Belom tentuuuu.
  • Mau list building, bagiin produk gratis. Simpel? Iya. Mau ngelakuin? Belom tentuu. Mungkin malah nyari yang script auto like lah,auto share lah.

Hei bro…., Memang tidak semua hal harus disimpel-simpelin. Tapi kalo sudah ada yang simpel, ngapain berusaha nyari yang susah sih?!

Saya ingat saat awal-awal belajar kungfu aliran jet kun doonya Bruce Lee. Patokannya apa coba? seminimal mungkin gerak, secepat mungkin matikan lawan. Kalo bisa langsung pukul, dan langsung KO. Ngapain harus salto dulu, muter-muter dulu, loncat-loncat, baru mukul?

Simpel is the best thing. But people often underestimate and don’t take action about it.

Simple

Penggunaan “The Reason WHY?” & “The Reason WHY NOT?!”

Kata Army, 2 hal:

  • Untuk melakukan suatu hal besar, kita harus punya “The Reason Why?”.
  • Tapi untuk melakukan hal kecil, kita gak perlu punya “The Reason Why?”, tapi justru hal yg harus kita punya adalah “The Reason Why NOT?!”

Atau kalau terjemehannya TRWN adalah: Kenapa gw gak harus melakukan hal tersebut?!


Kita Masuk ke Contoh:

Misalll…. ingin bangun bisnis. Nah itu besar tuh, musti dicari tuh The Reason Whynya. Kenapanya banget. Kalau gak ketemu, gak bakalan kuat atau konsisten ngejalaninnya.


Tapi kalau sekedar untuk push up 25X sehari, yg hanya ngehabisin waktu 1-2 menitan, ngapain harus punya The Reason Why! Justu harus punyanya The Reason Why NOT!

Yaitu: Cuman ngabisin 1-2 menit sehari dalam hidup lu, kenapa enggak?!!!


Karena kalo dicari The Reason Whynya untuk pushup 1-2 menit sehari, ya gak bakalan ketemu! 😀

3 Kriteria Pemilihan Niche yg Mau Dimonetize?

1. Based on Keahlian

Ah. Ada hambatannya. Yaitu bingung untuk memulai bikin materinya darimana.

  • Udah keahlian, berarti udah lama disitu.
  • Udah lama disitu, udah makin gak relevant kalo harus bikin panduan, apalagi kalau yg untuk dasar banget.

===

2. Based on Kesukaan

Ah. Ada hambatannya. Yaitu rasa bosen.

Passion atau Hobi, selama ini berasanya gak ngebosenin, kan karena selama ini ngelakuinnya:

  1. Dengan durasi sedikit.
  2. Dan gak pernah ada beban untuk jadi duit dari situ.

Begitu ngelakuinnya serrring banget (gak ada jeda).

Udah gitu jadi ada tuntutan ngeuangin, dibandingkan hanya melakukan seperti sebelumnya, kebosananlah yg jadi tantangannya.

===

Tiati, kebosenan itu NYATA. Sebuah tantangan.

Kalo kebosenan bukan tantangan yang nyata mah, semua orang udah:

  • Sayang sama pasangan
  • Pada atletis badannya. Karena gak bosen ngegym.
  • Pada kaya raya, karena duitnya gak dipake – pake selama berinvestasi.

3 hal contoh sepele diatas, jadi susah karena? Ya karena ada rasanya bosen!

===

3. Based on Opportunity

Gak tau apa apa, hanya berbekal tau niche itu berduit? Salahkah? Enggak juga. Wajar kok kalau memilih memasukkin suatu niche, karena melihat peluang/uang di niche itu.Terlebih kalo urusannya dengan bisnis. Wajar – wajar aja.

Hambatannya? Ya hambatannya ya jadi musti mempelajari.

Dan karena gak dilandasi dengan rasa suka atau pengalaman sebelumnya, kalo waktu untuk mempelajarinya lama, ya lama juga untuk menjadikan niche itu sebagai duit.

Terlebih kalo ternyata niche tersebut ngedaleminnya, diluar ekspektasi.

===

Kesimpulan:

3-3nya ada aja hambatannya.

Jadi kalo lagi bingung pilih niche, karena banyaknya pilihan, apalagi karena salah satu pertimbangan memasukki nichenya adalah kebetulan karena 3 pertimbangan diatas, percaya deh, tinggal:

  1. Bismilah,
  2. Cap cip cup belalang kuncup untuk yakin bahwa apapun pilihannya akan ada hambatan,
  3. Dah pilih satu nichenya!

Karena sebenernya, yang harus justru yg harus dipikirkan adalah:

Akankah Gw KONSISTEN Di Niche ini?
(sampai akhirnya menghasilkan)

Pola Bisnis Biar Sukses?

  • Assalamualaikum & Salam sejahtera. Saya Agan Khalid. Mungkin Anda mengenal saya sebelumnya karena Anda pernah berkunjung ke AganKhalid.Com atau BantaiFBAds.Com
  • Artikel ini ingin menjawab pertanyaan dari salah satu seorang subscriber email saya.
  • Kalau nanti Anda setelah menimbang-nimbang isi artikel ini bagus & Anda ingin menjadi subscriber email saya, dikasih tau caranya juga di dalam artikel ini).
  • Dibawah ini, saya berikan screenshoot atas pertanyaan dari dia. Kalau belom muncul fotonya, coba agak sabarrrr sebentarrr 😀


Sebelum saya menjawab, ada yang mengganggu saya nih, yaitu soal definisi:

  • Definisi “pola” yang dimaksudkan tidak jelas oleh sang penanya. Jadi saya bingung juga menjawabnya.
  • Maka dari itu, saya menjawab pake definisi “pola” dimata saya.

Kalau ibaratnya mesen celana ke tukang jahit, pola itu ya semacam blueprint. Cetakan.

Jadi kalau dalam bisnis, blueprint bisnis. Saya terka lebih dalam, MUNGKIN yang ditanyakan adalah blueprint supaya sukses di bisnis online.

OK, mengerucut kesitu saja jawabannya.


Klarifikasi Dulu Nih…,

Untuk dikatakan pantas menjawab pertanyaan ini, SAYA PRIBADI merasa belum pantas. Karena belom sesukses yang saya canangkan untuk diri saya sendiri.

Ya, untuk parameter ke diri saya sendiri, saya belum sukses mengalahkan target diri saya sendiri. Apalagi kalau sampai jawaban ini dijadikan patokan untuk secara general 😀

TAPI, kalau saat ini, detik ini, pertanyaannya: “Apakah lebih baik kesuksesannya?”, saya akan jawab “Ya! Jelas lebih baik!”.

Dan soal menjadi lebih baik, saya bisa menjawab, bagaimana polanya. Pola ini terbukti bagi diri saya sendiri, dan juga terbukti saat diterapkan saat saya mengajar di Bad Ass.

Apakah itu? Jawabannya panjang. Karena jawabannya panjang itulah, kenapa artikel ini saya buat.

Ada 5 point.

Mari kita bahas satu per satu.


Kalau IQ “Maaf – Maaf”, Mendingan Fokus Aja Udah!

Saya bukanlah orang yang bisa multitasking (berfikir & melakukan banyak hal sekaligus). Saya tadinya menolak untuk percaya akan hal itu.

Tapi kok kenyataannya kayak gitu ya. Jadi, saya terima kenyataan itu 😀

Ya karena saya gak bisa banyak hal, ya saya gak banyak gaya nyambi banyak hal. Simpel bukan?

Saya fokus. Ya mau gimana lagi, udah otak pentium 1, lelaguan ngerjain banyak hal, ya ngehang!

Lebih dalam soal KENAPA KITA HARUS BANGET FOKUS, sudah pernah dibahas dipodcast (rekaman dalam bentuk suara) saya dibawah ini:

*KLIK saja button play warna hijaunya. Tunggu sebentar untuk ngeloading podcastnya, dan dengarkan dengan seksama

  • Kalau kebetulan mesin kecerdasan otak Anda adalah kayak saya (NgeHang kalau multitasking), SEBAIKNYA podcast diatas didengerin!
  • Akan jadi sesuatu yang akan memberikan tamparan keras buat Anda yang sok bisa ngehandle banyak pekerjaan sekaligus, padahal kemampuan otaknya gak seperti itu.

Pareto

Setelah saya FIX-kan ke diri saya bahwa saya hanya bisa sukses kalau saya fokus, ya saya belajar sesuatu.

Apa yang menjadi perhatian utama saya ketika belajar sesuatu hal adalah: Selalu saya mulai dengan mempelajari bagian paretonya di ilmu, bidang, atau skill tersebut.

Agak panjang kalau saya harus jelaskan pareto itu apa.

Tapi…… “Mempelajari pareto” adalah jurussss saya dalam memangkas waktu yang akan banyak terbuang dalam mempelajari yang gak penting & lebih cepat mencapai keberhasilan.

Jadi kalau saya skip, akan ada yang miss soal “Pola” saya 🙁

Tapi untungnya, saya pernah bahas di podcast saya pula. Sampai 2 part bahkan! Sanking pentingnya paham apa pareto ini.

Part 1:

Part 2:

  • Kalau Anda belom paham prinsip pareto ini, untuk menguasai 1 hal katakanlah butuh waktu 6 jam.
  • Setelah Anda paham konsep pareto, bisa jadi Anda hanya butuh waktu 1 jam, tapi mendapatkan hasil seperti yang belajar 6 jam.
  • Jadi, Anda musti tau apa itu pareto! Dengerin podcast diatas tuh! 🙂

Feynman

Dan untuk proses cara belajar itu sendiri, TERNYATA, saya menggunakan tekhnik Feynman.

Ini sebuah tekhnik CARA Belajar yang diusulkan oleh seorang peraih nobel!

Jadi bisa dibilang: TRUSTED BANGET! Anda musti coba! Tekhnik Feynman cocok buat Anda yang otaknya pentium 1 kayak saya juga.

Tekhnik feynman bisa Anda cari lewat googling bagaimana caranya.

Atau dengan mendengarkan podcast teman saya, Army:

*Langsung ke menit 04:30 saja. Soalnya 04:30 awal di podcast ini isinya ngalor ngidul gak jelas.

Untuk yang berhubungan dengan diri sendiri, saya rasa cukup 3 itu saja:

  1. Fokus,
  2. Cari tau paretonya,
  3. Belajar dengan tekhnik (Feynman).

3 point diatas, SEMUA hal yang berhubungan dengan diri sendiri.

Sekarang hal – hal yang diluar dari diri sendiri.

Apakah itu?

Ada 2:

  1. Memilih Teman &
  2. Memilih Guru

Memilih Teman

Kita mulai dari memilih teman.

Pertanyaan saya ke Anda:

YAKIN gak nih udah punya teman yang mendukung Anda buat sukses di bisnis Anda?

Sebelum saya tau semua hal, cuman satu yang saya pikirin pertama kali saat terjun ke IM:

Gw harus cari temen yang mendukung gw dan juga gw mendukung dia supaya lebih sukses!

Ini temen yang BENERAN TEMEN ya. Yaaaa bisa dibilang sahabat lah.

Sampai detik ini, temen saya di IM mah banyak lah!

Tapi yang BENERAN Temen, dalam artian BENERAN berteman dan memang berhubungan hampir setiap hari udah kayak istri selama saya jadi IM 7 tahun, baru 2 tuh jumlahnya; Imam & Army.

Ya karena saya menyaring orang yang mau memasuki circle saya.

Akan jadi panjaaaaaang banget juga kalau harus dibahas tentang teman seperti apa yang harus Anda cari, dan bisa berlainan – berlainan pula.

Tapi saya yakin, kalau harus ada teman yang melengkapi kelemahan Anda, Anda akan setuju dengan hal itu.

Bagian cara melengkapi kelemahan Anda itu, sudah saya pernah bahas di podcast saya juga.

Ada 2 part. Masing – masing partnya cuman 5 menit. To the point banget.

Part 1:

Part 2:
[podbean resource=”episode=w9cga-6c9503″ type=”audio-rectangle” height=”100″ skin=”1″ btn-skin=”107″ share=”1″ fonts=”Helvetica” auto=”0″ download=”0″ rtl=”0″]

  • Anda gak ngerti temen seperti apa yang harus Anda punya untuk disesuaikan dengan diri Anda? Bakalan STUCK Anda! DIJAMIN!
  • Nyari temen itu ada seninya juga woy! Cari temen tuh yang bisa membantu kita dan kita bisa membantu dia pula. Ada seninya.
  • Mau tahu seninya? Dengarkan podcast diatas makanya 🙂

Mencari Guru

Hal kedua yang diluar diri sendiri setelah mencari teman adalah: Mencari guru.

PR jugalah soal mencari guru. Apalagi kalau sampai menjadi mentor.

Soal guru, ada 2 Tipe. Dan menurut saya soal bab mencari guru, bagi saya simple saja: Anda harus tau kapan harus berguru ke guru tipe 1, & kapan harus berguru ke guru tipe 2.

Lagiii dan lagi….. tentang hal tersebut, sudah dibahas podcast saya:

[podbean resource=”episode=gddk3-6cf088″ type=”audio-rectangle” height=”100″ skin=”1″ btn-skin=”107″ share=”1″ fonts=”Helvetica” auto=”0″ download=”0″ rtl=”0″]


Wkwkkwkww pas bikin podcast, mana saya tauuuu suatu saat akan tiba saatnya pertanyaan yang menyambungkan hal ini semua!

Wkwkwkkw.

Semoga Bermanfaat.


Iya tau, pasti Anda yang baca artikel ini, gak akan ngejalanin semua perintah yang ada di artikel ini.

Terutama kalau harus dengerin podcast yang direkomendasikan di dalamnya, kecuali Anda ngefans banget sama saya atau Anda lagi lowong banget waktunya.

Copyright © 2026 AganKhalid.Com